Jumat, 10 September 2010

jenis-jenis pura

B. JENIS – JENIS PURA
Beberapa kelompok pura di Bali sebagai berikut :
1.Pura Umum
Pura yang tergolong umum ini menjadi tempat pemujaan seluruh umat Hindu, sehingga pura-pura ini disebut Kahyangan Jagat di Bali. Adapun yang termasuk pura Kahyangan Jagat adalah Pura Sad Kahyangan, Pura Dang Kahyangan,dan pelinggih-pelinggih penyawangan, seperti yang terdapat dalam kantor-kantor.

Pura Kahyangan Jagat di Bali berdasarkan konsepsi Rwa Bhineda ialah :
A. Pura Besakih sebagai Purusa yang terletak di kabupaten Karangasem.
B. Pura Batur Pradhana di kabupaten Bangli.

Pura Kahyangan Jagat berdasarkan konsepsi Catur Lokapala ialah :
a. Pura Lemuyang Luhur di kabupaten Karangasem.
b. Pura Andakasa di kabupaten Karangasem.
c. Pura Batukaru di kabupaten Tabanan.
d. Pura Pucak Mangu di kabupaten Badung.

Pura Kahyangan Jagat berdasarkan konsepsi Sad Winayaka ialah :
a. Pura Besakih di kabupaten Karangasem.
b. Pura Lempuyang Luhur di kabupaten Karangasem.
c. Pura Goa Lawah di kabupaten Klungkung.
d. Pura Uluwatu di kabupaten Badung.
e. Pura Batukaru di kabupaten Karangasem.

Pura lainnya yang tergolong pura umum adalah pura yang fungsinya sebagai tempat pemujaan kebesaran jasa Dang guru. Pura ini di puja oleh seluruh umat hindu yang merasa berutang jasa kepada Dang guru atas ajaran yang telah diberikannya. Pura-pura yang tergolong ke dalam karakter ini disebut Pura Dang Khayangan.

PURA TERITORIAL
Pura ini memiliki ciri-ciri kesatuan wilayah sebagai tempat pemujaan suatu desa pekraman. Ciri khas suatu desa pekraman ada dasarnya mempunyai tiga buah pura yang disebut Kahyangan Tiga yaitu: Pura Desa,Pura Puseh, Pura Dalem.
Nama-nama Pura Kahyangan Tiga nampaknya bervariasi pada beberapa desa di Bali, misalnya pura desa sering disebut Pura Bale Agung, Pura Puseh sering disebut Pura Segara, Pura puseh desa Besakih disebut Pura Banua.

PURA FUNGSIONAL
Pura ini memiliki karakter fungsional karena umat penyiwinya terikat oleh ikatan kekaryaan seperti: mempunyai profesi yang sama dalam system mata pencaharian/penghidupan, seperti bertani, berdagang, nelayan. Karena bertani dalam mengolah tanahtidak dapat dipisahkan dengan air, maka mereka mempunyai ikatan yang disebut Pura Empelan atau Pura Ulun Swi atau Pura Subak.
Demikian pula berdagang merupakan satu system mata pencaharian hidup yang menyebabkan adanya ikatan pemujaan dalam wujud Pura yang disebut Pura Melanting. Umumnya Pura Melanting didirikan di dalam area suatu pasar yang dipuja oleh para pedagang dalam lingkungan pasar tersebut.

PURA KAWITAN
Pura ini mempunyai karakter yang ditentukan oleh adanya garis kelahiran. Suatu keluarga inti yaitu ayah, ibu dan anak yang mempunyai tempat pemujaan yang disebut Sanggah atau Pemerajan. Kemudian apabila keluarga itu bertambah banyak jumlahnya sudah ada yang keluar dari rumah asal, maka tempat pemujaan keluarga besar itu disebut Sanggah Gede atau Pemerajan Agung. Selanjutnya pada tingkat yang lebih luas yaitu tingkat clan (klen) mempunyai tempat pemujaan yang disebut Pura Dadia, sehingga mereka disebut Tunggal Dadia. Apabila klen itu membesar lagi sehingga mencakup wilayah bali, maka mereka memiliki tempat pemujaan yang disebut Pedarman, biasanya terdapat di Pura Besakih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar